Dua minggu terakhir pojok kamar jadi tempat favorit gue. Duduk, diam, hanya bisa menatap handphone yang ikut-ikutan diam. Sudah dua minggu dia menghilang. Entah namanya hilang atau bukan karena gue juga ga berani buat memulai. Paling tidak bertanya, "eh gue lagi di kampus nih sendirian, lo dimana?" atau "eh asli gue lagi jalan di mall ternyata film baru udah keluar lagi, terus gue nonton sendiri, lo dimana? temenin gue kali". Gabisa, tapi gue gabisa kaya gitu lagi. Mungkin terlalu kolot jala pikiran gue. Gue terlalu takut untuk mengakui kalo gue emang butuh dia banget di hidup gue. Gue cuma belum bisa menerima ketika tau bahwa dia memang sifatnya seperti itu kepada semua orang.
"Sick, but i'm okay :)" gue update status bbm
"Deuh, yang sakit yang sakit, sakit apa sih lo Cha?" 5 menit kemudian Arfi bbm gue
"Ah mau tau aja lo, gausa sok care deh hahaha" bales gue
"Ish istirahat lo sana, udah malem juga" jawab Arfi
"Ketika kita merasa kuat dalam menghadapi suatu masalah maka masalah itupun pasti terlewati" gue nulis status lagi
"Lo lagi ada masalah apa emang, cerita kali Cha sama gue :)" bbm yang sweet banget dari Arfi
"Gapapa Fi, gue panik aja beberapa hari lagi deadline pameran gue nih. Takut. Bakal gagal ga ya?" jawab gue sedikit worry
"Lo kan udah maksimal Cha nyiapinnya. Lo udah kasih segala yang lo bisa. Sekarang tinggal berdoa sama istirahat aja Cha kalo emang udah siap semua-muanya" balas Arfi menenangkan gue
"Ah iya Fi, lo emang paling bisa nenangin gue. Thanks banget ya Fi. Means a lot to me :)" balas gue lagi
"Sama sama Chachamaricha heyhey hehehe"
":D"
"CHAAAAAA SEMANGAT CHAAAAA. BISMILLAH YAAA"
"IYAAA FIIII TENGKIES SO MUCHOOO"
Namun kini hilang, seakan dia tak peduli sama gue. Entah apa yang ada dipikiran dia. Mungkin gue yang terlalu tolol ya. Kenapa juga gw tahan dalam empat tahun terakhir ini mendam rasa dalam kepalsuan pertemanan yang gue sendiri gatau apa dia punya rasa yang sama atau ngga dan apa dia selama ini menyadari perasaan gue yang berbeda ini atau ngga. Kadang kala pengen tiba-tiba lupa ingatan, atau pengen tiba-tiba ngga kenal sama dia. Tapi kenangan sama dia terlalu indah, kebersamaan yang telah terjalin terlalu berwarna, dan seperti suatu keberuntungan karena bisa merasakan itu. Tapi sebenarnya itu cuma mengukir luka. Seharusnya gue bisa menghindari itu sejak lama, tapi gue terlalu berani untuk bermain api dilingkaran ini. Sekarang aku bisa berbuat apa? Ketakutan ini terlalu dalam, ego terlalu tinggi, mengakui belum tentu merupakan jalan yang terbaik. Entah gue harus melakukan apa.
"Cha, lo dimana?" tiba-tiba ada bbm masuk dari dia........... *sigh*


0 komentar:
Post a Comment